takbir idul adha tanpa khilafah

Allahu Akbar!

Allahu Akbar!

Allahu Akbar

kumandang takbir gemakan bumi dan langit

menelusup ke pikiran, hati, tulang belulang

Engkau Maha Besar ya Allah

tak ada yang menyamaiMu

bumi dipenuhi gemuruh sebut asmaMu

hebat nian cinta hamba-hambaMu

agungkan Engkau

namun gembiraku seketika nyaris lenyap

saat kutahu, banyak di antara kami

yang tak jua mau menjadikan syariatMu sebagai pengatur kehidupan mereka

idul adha yang suci bersih

terasa masih hambar tanpa khilafah yang tak jua tegak

yang hanya diperjuangkan segelintir hamba-hambaMu

ya Allah, tolonglah kami

semoga ini idul adha terakhir tanpa khilafah

negeri tak beradab

tuan presiden yang terhormat, semoga anda tetap terhormat, selama anda menginginkan kehormatan itu. tapi anda tak akan mendapatkan kehormatan itu ketika anda sendiri yang menginjak-injak kehormatan itu.

percayalah tuan presiden, aku makin tak mempercayai tuan, disebabkan tuan tidak pernah mempercayai keinginan kami sebagai rakyat tuan. kami hanya ingin hidup tenang, tanpa gonjang-ganjing gemuruh tak pasti. tanpa sinyal-sinyal yang mengganggu frekuensi kebeningan hatiku dalam beribadah. tanpa gangguan berita-berita negeri tak beradab dengan segudang besar masalah korupsi, kerusakan moral, kebejatan akhlak warga negara yang kian meyakinkanku bahwa negeri yang tuan pimpin tidaklah beradab, meski banyak orang-orang beradab, yang mengaku beradab, pura-pura beradab, dan ingin dianggap beradab.

tuan presiden, cukup sudah pencitraan diri. bangunlah dari mimpi tuan. ini negeri tak pernah berakhir dari bencana. tuan pasti merasakannya bukan? tetapi mengapa tuan tak ambil peduli? mengapa tuan seperti pekak-tuli dan mati hati? mengapa tuan dan para pembantu tuan makin tak bernurani? tuan, haruskah ini menunggu sampai kami mati baru tuan sadar diri?

tuan presiden amboi genitnya mencari sensasi di mata publik. tuan bisa tekan itu pssi untuk tidak menaikkan harga tiket, tapi tuan tak berdaya saat cabe sekilo harganya melampaui harga 2 ayam potong yang berat keduanya 2 kg. semoga tuan tidak sedang bermimpi, apalagi berhalusinasi.

ingat tuan, jabatan tuan adalah amanah, tuan tidak bisa semena-mena menggenjot syahwat kekuasaan tuan di atas penderitaan rakyat tuan.

bagaimana tuan presiden, apakah tuan tidak takut mati, andai mati hari ini, sementara tuan tak membuktikan janji tuan mengayomi rakyat tuan sendiri?

tuan, negeri ini makin tak beradab, justru ketika tuan menjadi pemimpinnya.

dari si perindu kedamaian, di mana saat hening tak pernah ada gemuruh

-asa

akhir tahun

akhir tahun mengucap selamat tinggal

awal tahun datang menjelang

kita masih di sini,

dalam sepi

dalam duka

dalam kecewa

dalam derita

apa yang bisa kita lakukan?

maaf…

saat matamu tajam bagai sang elang
membuat detak jantungku berhenti
pias wajah ini
gagap mulut ini
aku diam membisu
aku berdiri antara langit dan bumi
tapi…
masih ada sebutir maaf untukmu

saat kata-katamu seperti pisau
tajam merobek nyawaku
aku diam terpaku
kerongkongan terasa perih, pedih
hanya air mata yang bicara
atas luka yang kuderita
atas serpihan hati yang terluka
tapi…
aku masih menyimpan setetes maaf untukmu

sebab…
sejujurnyalah aku cinta padamu
sejujurnyalah aku sayang padamu
sejujurnyalah kita adalah satu
sejujurnyalah kita ingin tetap bersama
sepantasnya….
kita memang bersaudara

19-11-02

Surat Untuk Presiden

Ibu Mega, kutahu dirimu murka
jika membaca suratku yang penuh luka
Ibu Mega, kutahu dirimu marah
jika membaca suratku yang penuh amarah

aku kecewa aku kesal
dan aku muak dengan sikapmu selama ini
entah kenapa dirimu yang terpilih
entah siapa yang memilih dirimu
dan entah siapa yang bodoh

Ibu Mega, pernahkah engkau merasakan luka?
pernahkah engkau merasakan derita?
pernahkah engkau merasa haus
hingga kerongkongan terasa tercekik?
perih, Bu, perih!

Ibu Mega, diammu membawa petaka
sorot matamu tajam tak peduli
senyummu menikam tepat di nyawaku
sebuah kepalsuan belaka
dirimu tak lebih dari seekor srigala!

Ibu Mega, mengapa kau undang anjing-anjing itu
justru ketika mereka lapar ingin menyantap kami
justru ketika mereka haus dengan darah kami
teganya kau jual harga diri negeri ini
demi tahta dan harta
demi sebuah kepentingan

Ibu, tega benar dirimu
aku benci kamu

23-10-02

siapa yang merindukanmu?

wajahmu pucat, pakaianmu lusuh
kakimu bernanah, bau busuk
rambutmu bagai ijuk, gimbal
menyeruak aroma amis dari lukamu

hidupmu hanya sekadar tumbuh
berjalan gontai menyusuri nasibmu
siapa pun tak peduli kamu
entah siapa yang merindukanmu?

aku hanyalah orang bodoh
yang hanya bisa menyaksikan penderitaanmu
tanpa setitik upaya
kejamnya aku…

tapi… siapa yang lebih kejam dariku?
nun jauh di sana…
pemimpinmu dimabuk kemenangan
hingga tega melupakan orang-orang sepertimu
atau mungkin…
orang macam kamu tak pantas untuk dihargai
bahkan sekadar untuk merindukannya

23-10-02

menangisku untuk Palestina

sedih, haru, kecewa, kesal
bercampur jadi satu
air mataku nyaris habis
menangis semalaman untukmu Palestina
haruku seperti jadi debu
beterbangan saat menyaksikanmu Palestina

kecewaku menggunung
saat tak ada peduli untukmu
justru dari saudara-saudaramu
kesalku memuncak
saat para pejuangmu dituduh teroris

Palestina, masih adakah saudaramu yang peduli?
di saat mata dunia tertuju ke Bali
Palestina, baramu tetap panas
haruskah kamu hancur…
justru di depan mata kepala saudaramu
yang hanya mampu diam membatu

aku menangis semalaman
sajadahku basah dengan air mata
berjuanglah wahai saudaraku
di tengah panggung kemunafikan dunia
bertempurlah pejuangku
berkorban demi Islam
raih kemuliaan itu
atau.. syahid menjemputmu

dari saudaramu,
yang hanya bisa menangis untukmu…

14-10-02