Category Archives: kecewa

negeri tak beradab

tuan presiden yang terhormat, semoga anda tetap terhormat, selama anda menginginkan kehormatan itu. tapi anda tak akan mendapatkan kehormatan itu ketika anda sendiri yang menginjak-injak kehormatan itu.

percayalah tuan presiden, aku makin tak mempercayai tuan, disebabkan tuan tidak pernah mempercayai keinginan kami sebagai rakyat tuan. kami hanya ingin hidup tenang, tanpa gonjang-ganjing gemuruh tak pasti. tanpa sinyal-sinyal yang mengganggu frekuensi kebeningan hatiku dalam beribadah. tanpa gangguan berita-berita negeri tak beradab dengan segudang besar masalah korupsi, kerusakan moral, kebejatan akhlak warga negara yang kian meyakinkanku bahwa negeri yang tuan pimpin tidaklah beradab, meski banyak orang-orang beradab, yang mengaku beradab, pura-pura beradab, dan ingin dianggap beradab.

tuan presiden, cukup sudah pencitraan diri. bangunlah dari mimpi tuan. ini negeri tak pernah berakhir dari bencana. tuan pasti merasakannya bukan? tetapi mengapa tuan tak ambil peduli? mengapa tuan seperti pekak-tuli dan mati hati? mengapa tuan dan para pembantu tuan makin tak bernurani? tuan, haruskah ini menunggu sampai kami mati baru tuan sadar diri?

tuan presiden amboi genitnya mencari sensasi di mata publik. tuan bisa tekan itu pssi untuk tidak menaikkan harga tiket, tapi tuan tak berdaya saat cabe sekilo harganya melampaui harga 2 ayam potong yang berat keduanya 2 kg. semoga tuan tidak sedang bermimpi, apalagi berhalusinasi.

ingat tuan, jabatan tuan adalah amanah, tuan tidak bisa semena-mena menggenjot syahwat kekuasaan tuan di atas penderitaan rakyat tuan.

bagaimana tuan presiden, apakah tuan tidak takut mati, andai mati hari ini, sementara tuan tak membuktikan janji tuan mengayomi rakyat tuan sendiri?

tuan, negeri ini makin tak beradab, justru ketika tuan menjadi pemimpinnya.

dari si perindu kedamaian, di mana saat hening tak pernah ada gemuruh

-asa

Iklan

satu Kata

aku tak pernah tahu
siapa dirimu
bayangmu pun tak pernah nyata

tapi suaramu selalu kutahu
menggores luka yang tak pernah sembuh
mencabik asa yang tak pernah tumbuh

hanya satu kata
hilang!

11-10-02

nikmati kesendirianmu

sekarang baru kau rasa
saat asa tak pernah sua
hujamkan sejuta kata
yang tak bisa kau terima

kemarin bukan milikmu
hari ini juga bukan milikmu
esok pun bukan milikmu
milikmu adalah dirimu

temaram senja tutup luka
andai saja kau suka
bawalah ia ke alam sana
di mana gelap menjadi sahabat

: nikmati saja kesendirianmu!

14-01-04

elegi untuk Rangga

janjimu telah mati, Rangga
cintamu terkapar sudah
romantismu lenyap
senyummu hambar

aku, bukan Cintamu yang dulu
Cinta-mu telah mati
ia hidup bersama rindu
yang tak bisa diraih

Rangga, saksikan derai cemara
cuma simponi tak bermakna
ia sampaikan pada udara
bahwa Cinta telah tiada

haruskah kubersabar menunggumu?
: dengan seribu sayatan sembilu

18-12-03

cinta separuh musim

kuingat dirimu berucap
: aku senantiasa mencintamu
kulihat gerak bibirmu gagap
: tapi aku tak bisa merindumu

kontradiksi!

aku tak paham maksudmu
rindu tebalku sia-sia

aku jatuh hati
di kala dirimu tak peduli
cintaku seputih salju
tapi sombongmu menodainya

kuingat dirimu meyakinkanku
: dik kita tak perlu takut
tapi musim belum juga berganti
: dik kita tak bisa bersama ah…
cintamu separuh musim
meninggalkan dingin yang menggigil di hati

21-09-2003

gerimis pagi buta

tanah basah
embun bergelayut hawa dingin menyergap
membekukan kabut malam

sisa hujan tadi malam
menggelayut di ujung daun
airnya bening
sejuk menyelusup
ke ujung sumsum

pagi ini masih gerimis
menyelimuti tangis
yang tak pernah terkikis
terus meringis

kokok ayam terdengar hambar
mengusir segar
yang tak sabar
menyambar

duka di pagi buta
sembulkan luka lama
yang telah menjadi legenda
saat asa tak pernah bersua

gerimis pagi buta
selimuti luka
basahi mata
semoga dengan cinta

11-07-03

di antara dua sepi

kedekap malam dengan rinduku yang dalam
kuhadang anginnya
dengan selimut cinta
yang sebenarnya tak pernah padam
sepi mencekam

kukecup rembulan
tatkala sinarnya jatuh
tapi mendadak ada yang hampa
rongga di jiwaku menganga
luka
amat dalam
menyiksa
sepi

26-06-03