Category Archives: marah

Surat Untuk Presiden

Ibu Mega, kutahu dirimu murka
jika membaca suratku yang penuh luka
Ibu Mega, kutahu dirimu marah
jika membaca suratku yang penuh amarah

aku kecewa aku kesal
dan aku muak dengan sikapmu selama ini
entah kenapa dirimu yang terpilih
entah siapa yang memilih dirimu
dan entah siapa yang bodoh

Ibu Mega, pernahkah engkau merasakan luka?
pernahkah engkau merasakan derita?
pernahkah engkau merasa haus
hingga kerongkongan terasa tercekik?
perih, Bu, perih!

Ibu Mega, diammu membawa petaka
sorot matamu tajam tak peduli
senyummu menikam tepat di nyawaku
sebuah kepalsuan belaka
dirimu tak lebih dari seekor srigala!

Ibu Mega, mengapa kau undang anjing-anjing itu
justru ketika mereka lapar ingin menyantap kami
justru ketika mereka haus dengan darah kami
teganya kau jual harga diri negeri ini
demi tahta dan harta
demi sebuah kepentingan

Ibu, tega benar dirimu
aku benci kamu

23-10-02

Iklan

siapa yang merindukanmu?

wajahmu pucat, pakaianmu lusuh
kakimu bernanah, bau busuk
rambutmu bagai ijuk, gimbal
menyeruak aroma amis dari lukamu

hidupmu hanya sekadar tumbuh
berjalan gontai menyusuri nasibmu
siapa pun tak peduli kamu
entah siapa yang merindukanmu?

aku hanyalah orang bodoh
yang hanya bisa menyaksikan penderitaanmu
tanpa setitik upaya
kejamnya aku…

tapi… siapa yang lebih kejam dariku?
nun jauh di sana…
pemimpinmu dimabuk kemenangan
hingga tega melupakan orang-orang sepertimu
atau mungkin…
orang macam kamu tak pantas untuk dihargai
bahkan sekadar untuk merindukannya

23-10-02

ada darah di Kuta

amarah memuncrat di Kuta Bali
ada darah, ada nyawa hilang
Legian gempar
bule-bule terkapar
meregang nyawa saat maksiat
darah terus mengalir
deras sampai ke pantai Kuta

karena darah, lalu menuai amarah
Bush meradang
John Howard naik darah
mereka sepakat mengobarkan perang
hancurkan teroris biadab!

siapa yang telah menumpahkan darah?
tetap misteri
siapa teroris?
tak ada yang tahu

nun jauh di sana
entah di negeri mana
ada yang pesta
ada yang suka cita
sukses menumpahkan darah
menuai kepentingan
siapa mereka?
tetap misteri

14-10-02

martir revolusi

mesiu yang telah kau racik
benamkan dalam jiwaku
kan kuolah dalam didihnya darah
panaskan urat-utar keberanianku

tanyakan pada para pengecut
siapa yang berhak mati
kabarkan pada para pecundang
siapa yang pantas hidup

kita berani teriak
: hidup sesungguhnya adalah kematian
kita bisa tertawa
: mati hanya sekali
kita bisa tersenyum
: menikmati kematian dalam sebuah revolusi

04-12-2003